Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Banjir Jalan Sapan Bandung yang Tak Kunjung Surut

Skintific

Bandung – Banjir Jalan Sapan Hujan deras yang melanda wilayah Bandung timur beberapa hari terakhir kembali memicu banjir di kawasan Jalan Sapan, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. Hingga Kamis (6/11), genangan air di sejumlah titik di jalan tersebut belum juga surut. Kondisi ini membuat aktivitas warga terganggu dan menimbulkan keresahan karena banjir seolah menjadi masalah yang tak kunjung terselesaikan setiap kali musim hujan tiba.

Pantauan di lapangan menunjukkan, air masih menggenang dengan ketinggian bervariasi antara 30 hingga 70 sentimeter, terutama di ruas jalan utama yang menghubungkan kawasan Gedebage dengan wilayah Rancaekek. Genangan air juga meluas ke beberapa permukiman warga di sekitar Jalan Sapan, menyebabkan kendaraan sulit melintas dan sebagian warga terpaksa memutar arah atau menunda aktivitas mereka.

Skintific

“Sudah tiga hari ini air belum juga surut. Kalau hujan lagi, air tambah tinggi dan masuk ke halaman rumah. Kami jadi tidak tenang,” ujar Sutrisno (48), salah satu warga yang rumahnya berada di sisi utara Jalan Sapan.

Aktivitas Warga dan Lalu Lintas Lumpuh

Banjir Jalan Sapan
Banjir Jalan Sapan

Baca Juga : Tampang Pria Perkosa Peras Mahasiswi Kenalan dari Aplikasi Kencan di Langkat

Banjir yang terus menggenang membuat jalan utama menuju kawasan industri Gedebage macet total. Sejumlah kendaraan roda dua terpaksa didorong karena mogok saat mencoba menerobos banjir. Sementara kendaraan besar seperti truk dan angkutan barang masih berusaha melintas dengan kecepatan sangat rendah.

Beberapa sekolah di sekitar wilayah tersebut bahkan terpaksa meliburkan sementara kegiatan tatap muka karena akses jalan sulit dilalui. Para siswa dan guru kesulitan menuju sekolah akibat genangan air yang meluas.

“Anak saya tidak bisa ke sekolah karena jalan di depan rumah sudah seperti sungai. Biasanya bisa lewat motor, tapi sekarang mustahil,” keluh Rina (35), warga Kelurahan Rancanumpang.

Selain mengganggu aktivitas harian, banjir juga berdampak pada aktivitas ekonomi warga. Sejumlah toko dan warung terpaksa tutup karena pelanggan tidak bisa datang. Bagi warga yang berjualan di pinggir jalan, kerugian pun tak terelakkan.

Penyebab Utama: Drainase Buruk dan Peningkatan Volume Air

Menurut keterangan petugas Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung, banjir di kawasan Jalan Sapan terjadi akibat buruknya sistem drainase dan penyempitan saluran air di beberapa titik. Selain itu, kawasan tersebut merupakan dataran rendah yang menjadi jalur limpasan air dari wilayah Rancaekek dan Ujungberung.

“Permasalahan di Jalan Sapan sudah lama. Air dari daerah hulu menumpuk di sini karena saluran tidak cukup besar menampung debit air hujan. Ditambah lagi banyak bangunan dan pemukiman yang berdiri di atas lahan resapan,” jelas salah satu petugas lapangan DSDABM yang tengah memantau kondisi banjir.

Faktor lain yang memperparah genangan adalah sampah rumah tangga yang menumpuk di saluran air. Warga mengakui, meski sudah sering dilakukan pembersihan, kebiasaan membuang sampah sembarangan masih sulit dihilangkan. Akibatnya, aliran air tersumbat dan memperlambat proses surutnya banjir.

Upaya Pemerintah dan Respons Cepat Petugas

Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Bandung melalui DSDABM dan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) telah menurunkan tim untuk melakukan penyedotan air dan pembersihan saluran sementara. Pompa air dikerahkan di beberapa titik terparah, sementara petugas kebersihan dibantu relawan membersihkan tumpukan sampah dari drainase.

“Kami sudah pasang dua unit pompa portable dan membuka saluran darurat untuk mempercepat aliran air ke Sungai Citarum. Tapi karena curah hujan masih tinggi, genangan tidak bisa langsung hilang,” ujar Kepala BPBD Kota Bandung dalam keterangannya kepada wartawan.

Pemerintah juga berencana menambah kapasitas saluran air di kawasan Sapan serta memperbaiki gorong-gorong yang sudah rusak atau tertutup sedimen. Selain itu, DSDABM sedang mengkaji pembangunan kolam retensi mini di sekitar area tersebut untuk menampung air hujan sementara sebelum dialirkan ke sungai utama.

Warga Minta Solusi Permanen, Bukan Sekadar Penanganan Darurat

Meski upaya penanganan sudah dilakukan, warga tetap berharap adanya solusi jangka panjang agar banjir tidak terus berulang setiap tahun. Mereka mengaku lelah dengan kondisi yang selalu sama setiap musim hujan datang — air menggenang, jalan rusak, dan aktivitas lumpuh.

“Kami sudah sering dengar janji perbaikan, tapi hasilnya belum terasa. Yang kami butuhkan bukan cuma penyedotan air, tapi perbaikan total saluran di sepanjang Jalan Sapan,” tegas Herman (52), tokoh masyarakat setempat.

Beberapa warga juga mengusulkan agar pemerintah melakukan normalisasi saluran air besar yang mengarah ke Sungai Citarum, serta menertibkan bangunan yang berdiri di area resapan dan bantaran sungai.

“Selama drainase tidak diperbaiki, banjir akan terus seperti ini. Padahal ini jalan utama yang sering dilewati kendaraan logistik dan masyarakat,” tambah Herman.

Dampak Lingkungan dan Kesehatan Mulai Terlihat

Selain menyebabkan kerugian ekonomi, banjir yang tak kunjung surut juga menimbulkan dampak kesehatan. Warga mulai mengeluhkan munculnya gatal-gatal, demam, dan diare, terutama pada anak-anak. Lingkungan yang tergenang selama berhari-hari membuat air kotor bercampur dengan limbah dan sampah, menimbulkan bau tak sedap dan risiko penyakit menular.

“Airnya sudah keruh dan berbau. Kami khawatir nanti muncul penyakit seperti leptospirosis atau demam berdarah,” ujar Sri Wahyuni (40), warga setempat.

Petugas dari Puskesmas Rancanumpang sudah turun ke lokasi untuk membagikan obat-obatan dan melakukan penyuluhan kesehatan. Warga diminta menjaga kebersihan, tidak bermain di genangan, dan segera melapor jika mengalami gejala penyakit.

Skintific