Bandung – menahan Perih Di balik dinginnya suhu pabrik es, ada cerita yang lebih dingin lagi — nasib para pekerja yang diam-diam menahan perih.
Peristiwa terbaru terjadi di salah satu pabrik es di kawasan Bandung Timur. Seorang pekerja lepas terluka cukup serius akibat kecelakaan saat memindahkan balok es ke truk distribusi. Kakinya tergelincir, tertimpa es seberat puluhan kilogram.
Es dan Luka yang Tak Terlihat
Tak semua tercatat
Kami kerja dari jam 5 subuh. Kadang sarapan pun lupa. Yang penting target kiriman hari itu selesai,” ujar salah satu pekerja, yang enggan disebut namanya.
Masalahnya bukan hanya jam kerja yang panjang atau suhu beku ruangan yang ekstrem
Kenapa Masih Dihindari?
Karena mereka bukan pegawai tetap. Banyak dari mereka pekerja harian lepas, tanpa kontrak. Statusnya fleksibel di atas kertas

Baca Juga : Kesetiaan Sukirno Rawat Sejarah Pertempuran 5 Hari Semarang di Atas Panggung
Banyak dari mereka pekerja harian lepas, tanpa kontrak. Statusnya fleksibel di atas kertas, tapi terikat tanpa perlindungan di dunia nyata.
Kalau ngeluh, takut nggak dipanggil kerja lagi. Tapi kalau diam, kami terus-terusan ambil risiko,” kata seorang pekerja senior yang sudah 7 tahun bekerja.
Dingin Tak Selalu Netral
Ironisnya, bisnis es di Bandung justru sedang naik daun. Permintaan tinggi dari warung, restoran
hingga industri makanan membuat pabrik-pabrik es bekerja nyaris tanpa jeda. Namun di tengah deru mesin pendingin, isu keselamatan dan kesejahteraan sering kali ikut membeku.
Harus Ada yang Mencair
Pemerintah kota, Dinas Tenaga Kerja, dan pemilik usaha seharusnya membuka mata. Menjaga keselamatan dan kesehatan kerja bukan cuma soal regulasi, tapi soal kemanusiaan.
-
Inspeksi rutin dan tegas terhadap pabrik es kecil-menengah.
-
Edukasi hak pekerja terhadap keselamatan kerja.
-
Penegakan aturan upah minimum dan jaminan sosial tenaga kerja.
-
Pemberian sanksi bagi pemilik usaha yang membiarkan pekerja tanpa perlindungan.
Pabrik es bukan musuh. Industri ini penting. Tapi ketika tangan-tangan yang mengangkat balok es tiap pagi mulai terluka,
Mereka butuh lebih dari sekadar upah harian.






