Bandung – Tangis Nenek Korban Sejak rumahnya ambruk akibat banjir besar pada November 2024, Atin (54), seorang janda asal Cibeureum, Kota Sukabumi, hidup dalam keterbatasan yang amat berat.
Puing dinding rumahnya kini hanya menyisakan sisa bebatuan dan rerumputan liar. Tidak ada lagi tempat tinggal yang bisa ia sebut rumah.
Saat banjir menerjang, ia sedang berada di dalam rumah bersama cucunya. Hujan deras berlangsung dari tengah hari hingga malam, tiba-tiba air meluap masuk ke dalam rumah mereka.
Ia dan cucunya berhasil menyelamatkan diri ke rumah kerabat, dan tak lama setelahnya, rumah mereka ambruk.
Banyak petugas datang untuk mendata dan memotret kondisi rumahnya, tetapi hingga hampir satu tahun berlalu—perbaikan masih jauh dari harapan.

Baca Juga : Whoosh Terpaksa Berhenti karena Layang-Layang
Kini, Atin tinggal di sebuah kontrakan kecil bersama cucunya yang masih sekolah dasar. Setiap harinya terasa penuh perjuangan.
Ia hanya mengandalkan kiriman uang dari anaknya yang merantau ke Kalimantan dan sedikit penghasilan dari kerja serabutan sebagai buruh tani.
Karena keterbatasan dana, kadang ia cukup makan, tapi di hari-hari lain, perutnya harus merasakan lapar hingga tidak bisa makan.
Herannya, bantuan penting seperti perbaikan rumah—yang kini tinggal puing—tak kunjung datang meski sudah sempat didata.
Harapannya sederhana: ia hanya ingin rumah tinggalnya diperbaiki, agar tidak terus menerus menyewa kontrakan yang berat di sakunya.
Ketika uang kiriman telat datang atau penghasilan serabutannya kering, ruang hidup menjadi rindang oleh sunyi dan kelaparan.
Di tengah perjuangannya, hanya doa dan harapan kecil yang ia miliki: bahwa suatu hari rumahnya akan kembali berdiri—tegar seperti dahulu.
Setiap kali hujan turun, hatinya kembali sesak—takut rumah kontrakannya kembali bocor atau malah roboh.
Malam-malamnya sering berbuah mimpi tentang rumah lamanya—yang kini hanya tinggal kenangan dalam puing.
Ia mencemaskan kesehatan cucunya yang masih anak sekolah dasar—tak hanya soal kecukupan makanan, tapi juga rasa aman yang tiada.
Dalam kesendiriannya, Atin menyadari betapa rapuhnya jaring pengaman sosial di sekitarnya—tetapi ia tetap berharap






